Hadiah Terakhir untuk Sahabat

Assalamualaikum teman-teman! Untuk kali ini, aku bakal share cerpen aku. Temanya tentang sahabat juga. Selamat membaca..

Hadiah terakhir untuk sahabat
Karya Yunia Harmulyati

Seminggu sebelum sahabatku pindah jauh di sana. Selepas pulang sekolah, aku lansung kembali pulang dan bergegas ke taman untuk bermain dengan sahabatku.

“Hei, kemana saja kamu? Dari tadi aku nungguin” Tanya sahabatku yang bernama Arik.  “Hehe, tadi aku makan siang dulu di rumah.” jawabku. “Oh ya sudah, kita main yuk!’ ajaknya. Setelah selesai bermain dengannya, tiba-tiba raut wajah Arik berubah. Aku pun bertanya “Kenapa kamu tiba-tiba sedih?” Arik pun menjawab “Sebenarnya sudah lama ada yang ingin aku sampaikan kepada kamu.” Mendengar kata-kata itu, seketika hatiku gelisah. Aku pun bertanya kembali “Apa yang ingin kamu sampaikan, Rik?” Arik pun menjawab “Seminggu lagi aku akan pindah ke Jepang” dengan rasa ingin tau, aku pun bertanya kembali “Kenapa kamu akan pindah ke Jepang? Apa kamu tidak suka berteman denganku?” Arik pun membalas “Bukan begitu, aku senang berteman denganmu. Kamu itu baik dan lucu. Tapi ayah harus pindah ke Jepang karena alasan pekerjaan. Bunda pun memutuskan kami sekeluarga pindah ke Jepang.” Aku pun tidak bisa berkata-kata lagi, hanya raut wajah sedih yang dapat kutampangkan di depan Arik. Arik pun memegang bahuku dan berkata “Aku juga sedih, karena aku akan meninggalkan kamu. Tapi kita ngak boleh sedih, walau sedih kamu harus tetap tersenyum. Aku janji kalau nanti aku sudah di Jepang, aku akan tetap menjadi teman aku. Aku akan memberi kamu kabar lewat email. Tetapi kamu jangan sedih ya?” Aku pun berusaha untuk tersenyum di depannya dan aku pun mengangguk untuk menyetujuinya. “Janji ya?” kataku sambil memberikan jari kelingking kecilku. “Iya Lynia, aku janji” kata Arik sambil membalas jari kelingking ku. Setelah itu, kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Sampai di rumah, aku pun berniat memberikan sebuah hadiah untuk Arik. Aku pun membuka celengan tabunganku. Aku berniat membelikan Arik sebuah jam tangan kesukaannya yang sampai sekarang belum sempat ia beli. Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku pergi ke toko jam. “Permisi, ada yang bisa saya bantu?” Kata pemilik toko jam itu. “Saya ingin membeli jam yang seperti ini.” Jawabku sambil memberi sebuah foto jam tangan kepadanya. “Oh ada, sebentar saya ambilkan.” Jawabnya. Tak lama kemudian sang pemilik toko pun kembali dan membawa sebuah jam tangan dan berkata “Ini jam tangan yang kamu inginkan. Tapi bukannya ini untuk anak laki-laki ya?” aku pun menjawab “Benar pak. Ini untuk sahabat saya.” “Oh begitu, karena ini untuk sahabat kamu, maka saya juga akan memberi harga yang lebih bersahabat.” Aku pun menjawab “Benarkah pak? Terima kasih ya pak!” jawabku senang. Aku pun membayar harga jam tangan itu dan bergegas pulang.

Dua hari kemudian saat aku sedang mengerjakan PR di kamar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Kubuka pintu kamarku, ternyata itu adalah Arik! Aku pun bergegas menyebunyikan hadiah untuknya yang berada di atas meja belajarku. Ia pun terlihat kebingungan dan bertanya “Kamu kenapa? Kok tiba-tiba duduk di kursi meja belajarmu?” aku pun menjawab “Ti..tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengambil ponselku untuk menanyakan nomor ponselmu.” Dia pun membalas “Bukannya kamu telah memilikinya? Bahkan kita sering saling menelpon bukan?” Aku pun menjawab “Hehehe, siapa tau kamu ganti nomor ponsel. Kan bisa jadi.” Dia pun menjawab dengan tertawa “Hahaha, kamu itu lucu ya. Ya.. kalau aku ganti nomor ponselku, kamu tidak bertanya pun, pasti akan lansung aku beri tahu. Kamu kan satu-satunya sahabatku. Ada-ada saja alasanmu ini” Aku pun kembali menjawab “Hehehe, iya juga ya.”. Setelah itu, kami pun membicarakan hal-hal ringan seputar sekolah.

Hari-hari pun berjalan seperti biasa. Dan hari dimana Arik harus pergi pun datang. Aku pun ikut mengantarkannya sampai bandara. Di bandara, aku pun berkata kepada Arik “Arik, ini ada sebuah kenang-kenangan dariku.” Kataku sambil memberikan sebuah kotak ke tangannya. “Apa ini?” tanyanya “Buka saja.” jawabku. Arik pun membukanya dan terkejut akan isi dari kotak itu. Dan mengucapkan terima kasih padaku. Saat ingin berpamitan, tiba-tiba ada pengumuman tentang pesawa yang akan dinaiki Arik akan segera berangkat. Arik dan keluarganya pun bergegas pergi. Dan tak lupa Arik berkata sambil melambaikan tangan “Terima kasih untuk hadiahnya, Lynia! Aku sangat menyukainya! Aku tidak akan melupakanmu. Sampai bertemu lagi!” Aku pun hanya bisa melambaikan tangan, menahan air mata yang keluar.

Di perjalanan pulang, ibuku mendapat kabar bahwa ada kecelakaan yang menimpa pesawat yang ditumpangi oleh Arik. Yang menyebabkan Arik dan keluarganya tidak selamat. Aku pun tak kuasa menahan air mataku. Aku pun menangis mendengar berita itu. Di saat itulah aku berpisah untuk selama-lamanya dengan Arik dan di saat itulah terdapat hadiah terakhir untuk sahabatku, Arik.


~Selesai~

Terima kasih telah membaca cerpenku kali ini ya. Jangan lupa baca karyaku yg lainnya ya! Kalian bisa baca di https://namasayayunia.blogspot.co.id Terima kasih :)

Komentar

Posting Komentar